Leoni Asya: Shopping Center Tempat Anak Muda Kreatif Metro Berekspresi Jangan Dimatikan

IMG-20261012-WA0031

METRO, Beritafaktanews.my.id — Wacana Pemerintah Kota Metro yang akan membongkar Pasar Shopping Center memicu kekecewaan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Pemilik kedai Bakmie Cap Nyonya, Leoni Asya, menilai kebijakan tersebut berpotensi mematikan ruang kreatif yang baru tumbuh dan menghidupkan kembali kawasan yang sempat lama terbengkalai di pusat kota.

 

Perempuan yang tumbuh besar di Kota Metro itu mengungkapkan kesedihannya atas rencana pembongkaran tersebut. Menurutnya, kawasan Shopping Center yang dahulu pernah berjaya, dalam beberapa tahun terakhir terlihat sepi dan kosong. Kondisi itu yang mendorong dirinya bersama sejumlah anak muda untuk menghidupkan kembali aktivitas ekonomi di sana.

 

“Aku melihat Pasar Shopping ini sepi. Kok, di tengah-tengah kota sepi banget, kosong, sedangkan ini kan di tengah-tengah kota. Ini yang membuat kita bersama teman-teman meramaikan kembali Shopping,” kata Leoni saat diwawancarai di kafe miliknya, Senin (12/10/2026).

 

Ia menjelaskan, bersama komunitas anak muda, mereka berupaya menjadikan Shopping Center sebagai ruang bagi pelaku UMKM untuk mengembangkan usaha sekaligus menampilkan kreativitas.

 

“Tempat yang dulu terbengkalai ini ramai lagi oleh anak muda. Yang unik-unik ada di sini, anak-anak yang kreatif banget,” tuturnya.

 

Menurut Leoni, keberadaan Shopping Center saat ini tidak hanya menjadi tempat berjualan kuliner, tetapi juga berkembang sebagai ruang kreativitas dan ekspresi seni bagi generasi muda Kota Metro.

 

“Di sini juga kita sering mengadakan pentas. Banyak kesenian anak muda yang berkelanjutan,” ujarnya.

 

Terkait wacana pembongkaran, Leoni mengaku kecewa dan sedih. Ia menilai rencana tersebut berpotensi merugikan para pelaku UMKM, khususnya anak-anak muda yang tengah merintis dan mengembangkan usaha di kawasan tersebut.

 

Ia juga menyayangkan belum adanya pemberitahuan maupun dialog dengan para pelaku usaha sebelum wacana pembongkaran itu mencuat.

 

“Sebelumnya tidak ada pemberitahuan kepada para pelaku usaha di sini, tidak ada audiensi dan mediasi dari pemerintah,” ungkapnya.

 

Leoni mengaku terkejut ketika tiba-tiba melihat pemasangan spanduk oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) di kawasan Shopping Center. Ia menyayangkan munculnya wacana pembongkaran tanpa komunikasi terlebih dahulu dengan para pelaku usaha.

 

“Kita di sini seperti merasa dikucilkan. Padahal, kita hanya ingin mencari rezeki. Kita seperti disingkirkan, karena kita di sini ingin menyejahterakan diri sendiri, tidak ingin merepotkan pemerintah,” katanya.

 

Pemilik usaha yang berjualan di lantai Shopping Center itu berharap pemerintah dapat membuka ruang dialog dengan para pelaku UMKM agar keberlangsungan usaha dan aktivitas kreatif anak muda di kawasan tersebut turut menjadi pertimbangan dalam menentukan kebijakan.(Rza)