Jika Dibongkar Kami Harus Pindah Kemana? Curhat Pelaku UMKM Shopping Center Metro

IMG-20261013-WA0002

METRO, Beritafaktanews.my.id – Owner U-90, Singgih Prabowo, menyayangkan rencana pengosongan dan pembongkaran Shopping Center Kota Metro yang dinilai dapat mengancam keberlangsungan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta lapangan kerja yang telah dibangun anak-anak muda. Ia meminta Pemerintah Kota Metro mengedepankan sosialisasi dan dialog bersama pelaku usaha sebelum mengambil keputusan.

 

Singgih mengatakan, dirinya mulai melihat potensi Shopping Center ketika pusat perdagangan tersebut dalam kondisi sepi, terutama di lantai dua yang nyaris tidak memiliki aktivitas usaha.

 

Berangkat dari kondisi itu, ia bersama anak-anak muda lainnya berinisiatif membangun usaha kreatif dan berkolaborasi untuk menghidupkan kembali kawasan tersebut.

 

“Kami anak-anak muda berkreativitas bersama dan berkolaborasi untuk meramaikan kembali Shopping Center. Awalnya, ini menjadi tantangan bagi kami,” ujar Singgih.

 

Menurutnya, keramaian Shopping Center saat ini membuka peluang bagi pelaku UMKM untuk memperoleh penghasilan, sekaligus menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat.

 

Ia menegaskan, penciptaan lapangan kerja bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan peran aktif generasi muda melalui kegiatan usaha yang produktif.

 

“Lapangan kerja itu bukan sekadar urusan pemerintah. Kami yang muda-mudi juga harus memikirkan bagaimana caranya menciptakan lapangan pekerjaan,” katanya.

 

*Kaget dengan Pemasangan Banner, Pelaku Usaha Mengaku Belum Mendapat Sosialisasi*

 

Singgih mengaku terkejut ketika melihat pemasangan banner oleh Pemerintah Kota Metro terkait rencana pengosongan Shopping Center. Menurutnya, hingga saat itu, ia belum menerima sosialisasi atau pemberitahuan yang memadai mengenai rencana tersebut.

 

Ia berharap pemerintah membuka ruang komunikasi dengan para pelaku usaha agar mereka dapat mengetahui secara jelas tujuan kebijakan yang akan diterapkan.

 

“Kalau ada sosialisasi, mari berbicara bersama pelaku usaha. Sebenarnya, keinginan kami hanya satu, yaitu ikut meningkatkan ekonomi Metro. Kami menciptakan lapangan kerja, membuat ekonomi berputar, dan mencari nafkah dari sini agar Shopping Center bisa ramai seperti sekarang,” tuturnya.

 

*Khawatir Nasib UMKM dan Karyawan*

 

Singgih mengaku sedih jika Shopping Center benar-benar dibongkar. Pasalnya, sejumlah pelaku usaha menggantungkan penghasilan dan keberlangsungan hidup mereka dari aktivitas perdagangan di kawasan tersebut.

 

Selain menjalankan usaha, para pelaku UMKM juga memiliki karyawan yang membutuhkan kepastian pekerjaan.

 

“Jika ini benar-benar dibongkar, jujur saya merasa sedih. Banyak orang yang bergantung pada usaha di sini untuk mencari nafkah. Kami punya usaha dan karyawan yang juga harus dipikirkan nasibnya,” ungkapnya.

 

Ia meminta Pemerintah Kota Metro memberikan penjelasan dan solusi konkret apabila pengosongan atau pembongkaran memang akan dilaksanakan.

 

Menurutnya, pelaku usaha perlu dilibatkan dalam pembahasan agar memiliki gambaran mengenai langkah selanjutnya dan tidak kehilangan tempat usaha secara tiba-tiba.

 

“Kalau tiba-tiba seperti ini tanpa sosialisasi, kami tidak punya tempat untuk melanjutkan usaha. Kami harus pindah ke mana? Karena itu, pemerintah harus memberikan solusi dan jalan keluar yang jelas,” tegasnya.

 

*UMKM Dinilai Ikut Menggerakkan Ekonomi Kota Metro*

 

Singgih menilai keberadaan UMKM di Shopping Center telah memberikan manfaat ekonomi bagi berbagai pihak, mulai dari pemilik usaha, karyawan, hingga juru parkir dan masyarakat lain yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas di kawasan tersebut.

 

Ia berharap pemerintah melihat perkembangan tersebut sebagai potensi yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan kebijakan terhadap Shopping Center.

 

Menurutnya, ketika pelaku usaha dapat tumbuh dan berkolaborasi, perputaran ekonomi akan semakin luas dan membuka peluang kerja baru bagi masyarakat.

 

“Mudah-mudahan pemerintah punya solusi. Dengan adanya UMKM di sini, kami berkolaborasi untuk menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan ekonomi. Dari Shopping Center ini, ada banyak pihak yang ekonominya ikut terangkat, termasuk juru parkir dan pelaku usaha lainnya,” jelasnya.

 

Singgih juga meminta pemerintah menjelaskan secara terbuka tujuan pengosongan Shopping Center, termasuk rencana pemanfaatan gedung tersebut apabila kebijakan itu benar-benar dilaksanakan.

 

“Agenda pengosongan ini untuk apa dan nantinya akan dibuat apa? Tujuannya harus jelas,” ujarnya.

 

*Singgih Menilai Gedung Masih Kokoh, Minta Kondisi Bangunan Diperiksa*

 

Selain persoalan nasib UMKM, Singgih turut menanggapi pembahasan mengenai ketahanan gedung dan fasilitas Shopping Center.

 

Berdasarkan pengamatannya selama beraktivitas di lokasi, ia menilai kondisi bangunan masih terlihat kokoh. Namun, ia menyatakan bahwa penilaian tersebut merupakan pandangan pribadi berdasarkan pengalamannya, bukan hasil pemeriksaan teknis.

 

“Menurut saya, gedung ini masih kokoh. Kemarin saya memaku saja masih terasa keras. Saya juga pernah naik ke bagian atas dan melihat kondisi cor-corannya masih bagus,” katanya.

 

Meski demikian, ia mempersilakan pemerintah melakukan pemeriksaan teknis untuk memastikan kondisi bangunan secara objektif.

 

Singgih berharap setiap keputusan terkait masa depan Shopping Center mempertimbangkan kondisi bangunan, keberlangsungan UMKM, nasib karyawan, serta dampaknya terhadap perekonomian masyarakat.

 

Ia menegaskan, pelaku usaha pada dasarnya ingin ikut berkontribusi membangun perekonomian Kota Metro. Karena itu, ia berharap pemerintah mengedepankan komunikasi, transparansi, dan solusi yang berpihak pada keberlangsungan usaha masyarakat. (Rza)