PPA-BA Perkuat Digitalisasi Human Capital, Produktivitas Jadi Ukuran Utama

IMG-20260912-WA0031

JAKARTA, beritafaktanews.my.id – PT Putra Perkasa Abadi (PPA) Jobsite PT Bukit Asam terus memperkuat pengelolaan sumber daya manusia (SDM) melalui transformasi digital Human Capital Management System (HCMS). Langkah tersebut diarahkan untuk memastikan pengelolaan tenaga kerja tidak hanya memenuhi kebutuhan manpower, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap produktivitas dan keberlanjutan bisnis.

 

Hal itu disampaikan Recruitment & People Development Group Leader PPA, Febrian Anggara Putra, dalam sesi wawancara penjurian TOP Human Capital Awards 2026 yang digelar Majalah TopBusiness secara daring, Kamis (10/9/2026).

 

Dalam paparannya, PPA Jobsite PT Bukit Asam menekankan pentingnya keterkaitan antara strategi human capital dengan kebutuhan bisnis serta dinamika operasional pertambangan.

 

PT PPA-BA merupakan perusahaan kontraktor yang bergerak di bidang jasa pertambangan, penyewaan alat berat dan aktivitas penunjang lainnya. Saat ini, kegiatan operasionalnya didukung sekitar 1.800 pekerja, baik organik maupun outsourcing.

 

Menurut Febrian, strategi human capital PPA dibangun melalui empat fungsi utama, yakni recruitment, talent & development, industrial relations, serta compensation & benefit. Keempat fungsi tersebut memiliki indikator kinerja, pemilik proses dan mekanisme evaluasi yang diselaraskan dengan kebutuhan bisnis.

 

“Strategi pengelolaan human capital di PT PPA Jobsite PT Bukit Asam diarahkan tidak sekadar berbicara mengenai pemenuhan manpower, tetapi bagaimana memastikan workforce availability, capability, employee stability, hingga cost discipline bisa terus mendukung kebutuhan operasional yang makin dinamis, termasuk di era kemajuan teknologi,” ujar Febrian.

 

Turut hadir dalam sesi penjurian tersebut Novan Herdianto selaku Human Capital & General Affairs Department Head, Ryan Nailufar Febriantama selaku Recruitment & People Development Group Leader, Novan Satriawan selaku Compensation & Benefit Group Leader, serta Said Irfan selaku Industrial Relations Group Leader.

 

Sementara tim juri terdiri atas M. Lutfi Handayani, MM, MBA selaku CEO MSI Group, Ben De Haan, SH selaku Senior Advisor MSI Institute, Eri Sumiarso selaku Senior Business Consultant Sinergi Daya Prima dan Dwinda Ruslan selaku Senior Business Consultant Yayasan Pakem. Penjurian dimoderatori Ahmad Churi dari MSI Group.

 

Sejalan dengan visi dan misi perusahaan, pengelolaan SDM PPA dilakukan beriringan dengan komitmen terhadap efisiensi energi, peningkatan performa manajemen dan keselamatan kerja.

 

PPA memiliki visi menjadi perusahaan jasa pertambangan mineral dan batubara terbesar pertama di Indonesia sebelum 2030 yang terdiversifikasi, aman, minim jejak lingkungan dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi para pemangku kepentingan.

 

Dalam implementasinya, pekerja tidak hanya dibekali keahlian teknis, tetapi juga nilai-nilai perusahaan, mentalitas kerja profesional dan kedisiplinan. Perusahaan juga membangun sistem Employee Experience & High-Performance Culture yang terukur, partisipatif dan terhubung dengan continuous improvement.

 

Rekrutmen dan Pengembangan SDM

 

Dari sisi workforce planning, PPA mencatat recruitment lead time sekitar 29,6 hari dengan tingkat pemenuhan manpower mencapai 98,73 persen. Sementara deviasi manpower planning berada di kisaran 1,98 persen.

 

Pengelolaan tersebut diarahkan untuk menjaga keseimbangan antara kecepatan rekrutmen, kualitas tenaga kerja, kebutuhan organisasi dan produktivitas operasional.

 

Kinerja human capital juga menunjukkan perkembangan. Jumlah karyawan meningkat dari 1.648 orang pada 2024 menjadi 1.782 orang pada 2025. Pada periode yang sama, jumlah karyawan yang mengikuti pelatihan meningkat dari 198 menjadi 228 orang.

 

Sementara voluntary separation turun dari 0,92 persen pada 2024 menjadi 0,46 persen pada 2025.

 

Dalam pengembangan talenta, PPA menggunakan kombinasi assessment, performance, workforce data dan kebutuhan posisi untuk menentukan tingkat kesiapan seorang karyawan.

 

Hasil assessment tidak secara otomatis menjadi dasar promosi, melainkan digunakan untuk menentukan kebutuhan pengembangan, talent pool maupun rekomendasi mobilitas.

 

Salah satu fokus utama adalah succession management. Dari 51 catatan acting, sebanyak 88,2 persen berada dalam batas waktu 12 bulan, sedangkan 11,8 persen masih berada di atas 12 bulan.

 

Tingkat graduation secara keseluruhan mencapai 60,08 persen, dengan capaian tertinggi pada jenjang Group Leader (GL), yakni 84,21 persen.

 

PPA juga mendorong agar hasil assessment diterjemahkan menjadi Individual Development Plan (IDP) yang disepakati antara karyawan dan atasan.

 

Proses tersebut mencakup feedback, diskusi, penyusunan IDP, persetujuan hingga review. Dengan demikian, pengembangan SDM tidak hanya menjadi tanggung jawab fungsi human capital, tetapi juga karyawan dan atasannya.

 

Digitalisasi hingga Pemanfaatan AI

 

Transformasi human capital PPA diperkuat melalui pemanfaatan teknologi digital. Sejumlah platform telah digunakan, antara lain SAP SuccessFactors, SAP/SS6, Learning Management System (LMS) serta HalloHCGA.

 

Platform tersebut mendukung berbagai proses, mulai dari performance management, employee master, learning hingga layanan mandiri bagi karyawan.

 

Salah satu implementasinya adalah HalloHCGA yang mendigitalisasi siklus pengelolaan Key Performance Indicator (KPI), mulai dari assignment, input realisasi, pengunggahan bukti, approval atau rejection, revisi hingga notifikasi.

 

PPA juga mengembangkan Comben Helpdesk dengan dukungan artificial intelligence (AI) sebagai layanan tanya jawab terkait compensation and benefit.

 

Sistem tersebut mengintegrasikan database kebijakan, direktori, AI chatbot, deployment hingga evaluasi untuk membantu menjawab pertanyaan karyawan secara lebih cepat dan efisien.

 

Namun, perusahaan mengakui pemanfaatan AI masih dilakukan secara konservatif. Predictive analytics dan production AI belum diklaim sebagai capaian saat ini.

 

Pengembangan AI berikutnya akan didahului dengan penguatan kualitas data, keamanan dan privasi, validasi use case, human oversight serta pengukuran outcome.

 

Human Capital Didorong Berdampak pada Produktivitas

 

PPA tidak hanya mengukur aktivitas HR, tetapi mulai menghubungkan pengelolaan human capital dengan dampak terhadap bisnis.

 

Pada 2025, produktivitas manpower tercatat sekitar 32.000 BCM per manpower. Sementara target produksi bulanan dan tahunan dapat tercapai di atas 100 persen.

 

Dari sisi efisiensi, program continuous improvement melalui Quality Control Circle (QCC) dan Suggestion System menghasilkan 25 improvement dengan rata-rata progress mencapai 75 persen.

 

Dari jumlah tersebut, tujuh improvement telah memiliki hasil kuantitatif tervalidasi, sedangkan 18 lainnya masih membutuhkan eskalasi dan keputusan manajemen.

 

Salah satu hasil yang ditampilkan adalah penghematan sekitar Rp31,1 juta per bulan melalui QCC Handling Complaint pada fungsi General Affairs.

 

Selain itu, learning cost per hour turun 12,3 persen melalui program QCC Mata Elang.

 

PPA juga mulai mengembangkan pendekatan Return on Human Capital Investment (ROHCI). Namun, indikator yang digunakan saat ini masih berupa proksi nonfinansial, seperti pertumbuhan target bisnis dan pencapaian produksi.

 

Hal tersebut dilakukan karena data finansial korporasi tidak dipublikasikan.

 

Ke depan, PPA Jobsite PT Bukit Asam menargetkan peningkatan kematangan pengelolaan human capital melalui pembangunan baseline HC Business Index, penyusunan metodologi ROHCI finansial yang lebih formal serta dokumentasi untuk mereplikasi praktik terbaik.

 

Dengan langkah tersebut, pengelolaan human capital PPA diarahkan bergeser dari fungsi administratif menjadi strategic business partner yang mampu menghubungkan pengelolaan talenta, digitalisasi, produktivitas, inovasi dan keberlanjutan bisnis. (Red)