Proyek Jalur Kereta Jadi Penopang, Prospek Saham PTBA Dinilai Positif hingga Akhir 2026
JAKARTA, beritafaktanews.my.id – Prospek kinerja PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) hingga penghujung 2026 dinilai masih cukup menjanjikan. Pertumbuhan perseroan diperkirakan lebih berpotensi didorong oleh peningkatan volume penjualan batu bara, sementara kenaikan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) diperkirakan bukan menjadi faktor utama.
Senior Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas, menyebut peningkatan kapasitas logistik menjadi salah satu faktor penting yang dapat menopang kinerja PTBA. Salah satunya melalui pengoperasian jalur kereta api Tanjung Enim-Keramasan yang ditargetkan memasuki tahap commercial operation date (COD) pada semester II 2026.
Menurut Sukarno, peningkatan kapasitas angkutan tersebut berpotensi memperkuat kemampuan PTBA dalam mengangkut dan mengevakuasi produksi batu bara, sehingga dapat membuka ruang bagi peningkatan volume penjualan.
Di sisi lain, realisasi produksi batu bara nasional hingga semester I 2026 telah mencapai sekitar 367,06 juta ton atau 61,18 persen dari total kuota produksi yang telah disetujui pemerintah untuk tahun berjalan.
Apabila terdapat relaksasi terhadap kuota produksi dalam RKAB, PTBA dinilai memiliki peluang untuk meningkatkan volume penjualan. Efisiensi biaya juga diharapkan dapat membantu perseroan menjaga tingkat profitabilitas.
Selain sektor logistik, pengembangan bisnis hilirisasi disebut berpotensi menjadi penopang pertumbuhan PTBA dalam jangka panjang. Diversifikasi bisnis tersebut dinilai dapat memperkuat fundamental perusahaan di tengah dinamika industri batu bara dan transisi energi global.
Meski demikian, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko. Pelemahan harga batu bara dunia, perlambatan permintaan dari China dan India, serta kebijakan transisi energi dapat memberikan tekanan terhadap kinerja emiten batu bara.
Perubahan kebijakan pemerintah terkait kewajiban pemenuhan domestic market obligation (DMO) maupun besaran royalti juga menjadi faktor yang berpotensi memengaruhi fundamental perusahaan.
Dari sisi kinerja keuangan, PTBA mencatat pendapatan sebesar Rp9,92 triliun pada kuartal I 2026, relatif tidak banyak berubah dibandingkan Rp9,95 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp801,79 miliar. Angka tersebut meningkat dibandingkan periode pembanding yang tercatat sebesar Rp391,47 miliar.
Dengan mempertimbangkan prospek operasional dan peluang peningkatan volume penjualan, Kiwoom Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham PTBA.
Sukarno memberikan target harga saham PTBA sebesar Rp3.260 per saham untuk jangka waktu 12 bulan ke depan. Menurutnya, pergerakan saham PTBA selanjutnya akan banyak dipengaruhi oleh perkembangan harga batu bara global serta realisasi peningkatan volume penjualan perseroan.
Sumber informasi: Kontan.co.id, 23 Juli 2026.Catatan: Pada naskah sumber yang Anda kirim terdapat ketidaksesuaian angka: kalimat menyebut laba bersih Rp801,79 miliar naik dari Rp391,47 miliar pada kuartal I-2026, padahal kemungkinan yang dimaksud adalah kuartal I-2025. Sebaiknya dikoreksi sebelum diterbitkan.
(Red)
