Beginilah Cara Putri Ahmad Yani Menyembuhkan Diri Dari Trauma G30S, Sampai Harus Menepi ke Desa Kecil Selama Puluhan Tahun

FB_IMG_1791533109339

JAKARTA, Beritafaktanews.my.id — Gerakan 30 September 1965 meninggalkan trauma yang mendalam terutama bagi mereka yang menyaksikannya secara langsung. Amelia Yani, putri Ahmad Yani, adalah salah satunya. Dia menyaksikan sendiri ayahnya diberondong pasukan Cakrabirawa yang menculiknya pagi 1 Oktober 1965 itu.

 

Setiap kali memasuki bulan September, Amelia Achmad Yani selalu mengingat peristiwa yang tidak bisa dilupakannya itu, bak sebuah potret yang berjalan. Tiba-tiba dia melihat ayahnya diseret, tiba-tiba mendengar suara tembakan yang menggelegar, begitu terus sampai tanggal 30 September.

 

Dan setiap tanggal 30 September, di mana pun Amelia berada, dia akan membuat tahlilan, yang waktunya disesuaikan dengan tanggalnya di Jakarta, termasuk jamnya.

 

Untuk menghilangkan trauma, Amelia memutuskan pindah ke desa, di sebuah dusun, Dusun Bawuk, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), 1988, tanpa listrik. Tinggal di desa itulah dia menyembuhkan luka batinnya dari semua rasa dendam, rasa amarah, rasa benci, kecewa, iri hati, dan dengki.

 

“Itu hilang. Di desa, itu hilang,” katanya.

 

Lebih dari 20 tahun dia tinggal di desa itu, hampir seperempat abad Amelia tinggal di desa, dan dia menyekolahkan Dimas, anak tunggalnya, mulai SMA ke Australia.

 

Amelia tinggal sendirian di desa, bangun pagi, jam enam sudah di sawahnya, dia juga punya kolam ikan gurame, punya pohon buah-buahan, mangga, pepaya, pisang. Amelia juga punya ayam, yang lalu telurnya dijual, sayangnya selalu rugi, tidak pernah untung, tapi dia tidak pernah tahu kenapa.

 

“Itulah belajar,” katanya.

 

Amelia juga banyak bergaul dengan petani, dia pergi ke Bukit Menoreh, sampai di ujungnya, di Puncak Suryoloyo. Hingga kemudian anaknya memanggilnya, katanya, Amelia tidak cocok di situ.

 

Karena itulah Amelia meninggalkan dusun, kembali lagi ke kota, Jakarta, dan memulai jalan yang lain lagi. Dia sempat masuk sebuah partai politik, ikut dalam pemilihan kepala daerah, namun tidak berhasil, sampai uangnya habis.

 

Pengalaman itu membuatnya semakin matang, lalu membuatnya menulis lagi. (Red)